Home / News Update / Minangkabau: Adat Nan Sebenar Adat

Minangkabau: Adat Nan Sebenar Adat

Telah sering kita mendengar bahwa masyarakat Minangkabau memiliki adat yang sangat ketat, tiap tindak tanduk pasti memiliki filosofi dan nilai kehidupan masing-masing. Adat yang diajarkan turun temurun ke generasi baru Minang, membuat adat dan Minangkabau itu tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Tapi, apa sebenarnya tujuan dari adat Minangkabau? Mengapa harus tetap diajarkan hingga sekarang? Apa gunanya adat dalam kehidupan individu Minangkabau?

Dimulai dari pertanyaan, apakah adat“kok pai tampak pungguang, jiko pulang tampak muko”  hanya diamalkan jika merantau saja? Tentu tidak. Adat ini wajib diamalkan dalam kehidupan sehari-hari oleh siapapun. Anak-anak pulang sekolah, dibiasakan mengucapkan salam sebelum masuk rumah. Bapak-bapak pamit kepada istri dan anaknya sebelum meninggalkan rumah. Karyawan perlu meninggalkan pesan kepada koleganya kalau mau meninggalkan kantor. Istri memberitahu pembantunya jika ingin belanja ke luar rumah.

minangkabau

Pendek kata, siapapun kita wajib mengamalkan adat ini. Kalau memang “alam takambang jadi guru” , coba perhatikan alam sekitar. Kucing aja sesekali mengeong ketika ingin masuk rumah, begitu juga anjing akan menggonggong minta dibukakan pintu. Apalagi kita sebagai manusia yang sudah diberikan kelebihan berupa pikiran oleh Allah SWT.

Begitu pula adat “bajalan bak nan tuo, balayia bak nahkoda” , apakah hanya akan diimplementasikan jika jauh dari kampung atau ketika berjalan berombongan saja adat itu dipakai. Tidak sama sekali tidak. Adat ini harus diterapkan dalam hidup dan kehidupan sehari-hari.

Sebagai orang Minang, wajar kita merenung kenapa jarang perusahaan atau pengusahaa Minang yang menonjol (Baca juga: Mengapa Orang Minang Tidak Masuk 10 Besar Orang Terkaya) . Mungkin orang Minang jarang ingin menjadi nomor dua dan pastinya tidak ingin diduakan.

Tiap individu Minang merasa dirinya sama dengan orang lain. Mereka umumnya beerwatak secong to none . Jika kebetulan orang Minang menjadi bawahan orang Minang lainnya, maka bawahan itu akan bersikap seperti “iyokan nan kato beliau, lakukan dek nan awak” (turuti kata-kata juragan, lakukan dengan cara kita sendiri).

Sifat orang Minang yang pantang tahimpik ini mungkin bersumber dari budaya lapau yang memberi kebebasan berbicara yang tak terkendali dan tak mengenal hirarki. Atau mungkin watak kebersamaan yang salah kaprah sehingga orang Minang dalam organisasi modern baik di pemerintahan, angkatan bersenjata dan dunia usaha tidak berhasil membentuk struktur piramida.

Agaknya inilah salah satu sebab mengapa oran Minang kini jarang mencpai kedudukan puncak. Mereka tidak saling mendukung. Suku bangsa lain Seperti Jawa, Sunda dan Batak saling mendukung sehingga dapat membentuk struktur organisasi, piramida sesama mereka.

Dalam organisasi modern yang selalu berbentuk piramida ini, sangat baik jika kita renungkan kembali ajaran adat “bajalan bak nan tuo, balayia bak nahkoda” , dimana nan tuo maupun nhkoda itu hanya da 1. Dalam struktur organisasi piramida tidak berlaku duduak samo randah, tagak samo tinggi (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi). yang harus diterapkan adalah bajanjang naiak, batanggo turun ( berjenjang naik, bertangga turu) atau kamanakan baraja ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu bara ka mufakaik, mufakaik baraja ka nan bana, bana tagak sandirinyo (kemenakan belajara kepada mamak, mamak belajar kepada penghulu, penghulu belajar kepada musyawarah mufakat, mufakat belajar kepada kebenaran, dan kebenaran belajar dengan sendirinya).

adat minangkabau

Dengan mencoba mendalami hikmah dari  masing-masing adat khususnya adat sopan santun ini, maka terasa bahwa ketentuan adat telah menggiring kita kepada suatu sasaran peningkatan budi pekerti sebagai orang Minang. Apapun hikmah yang kita peroleh dari masing-masing pepatah adat, semuanya bermuara pada pembentukan individu dan masyarakat Minang yang berbudi luhur.

Tidak salah jika orang Minang mengatakan bahwa tak beradat itu sama dengan tak beradab. Bagi orang Minang, adat adalah sama dengan adab. Jadi kalau ada orang Minang yang ingin menghapuskan adat, maka hal ini juga berarti bahwa orang itu ingin menghapus peradabannya. (civilization).

 

 

comment

comment

About urangawak

Check Also

PENCAK SILAT MINANGKABAU

Penyebaran Silat Minangkabau di indonesia

Merujuk pada buku Filsafat dan Silsilah Aliran-Aliran Silat Minangkabau  karanan Mid Djamal (1986), diketahui bahwa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sitemap