Home / Art & Culture / Syarat Berdirinya Nagari di Minangkabau

Syarat Berdirinya Nagari di Minangkabau

Nagari di Minangkabau – Unit terkecil dalam sistem kekerabatan Minang adalah orang-orang sesuku, sebaliknya unit terbesar adalah kumpulan orang-orang sanagari. Adat Minangkabau pun hanya salingkuang nagari itu sendiri, jadi suku dan nagari mempunyai arti yang penting bagi orang Minang. Untuk berdirinya suatu nagari, diperlukan syarat berikut ini:

1 Kaampek Suku

Suatu pemukiman disebut nagari bila penduduk di pemukiman itu sudah tersusun sekurang-kurangnya 4 (empat) buah kelompok suku yang masing-masingnya sudah mempunyai Penghulu Andiko . Keempat suku itu haruslah terdiri dari 2 bagian suku yang tidak serumpun, sehingga antara kedua kelompok itu dalam melakukan perkawinan.

Semula pembagian keempat susku itu dilakukan dengan mudah yakni 2 suku yang menganut aliran Datuak Parpatiah Nan Sabatang yaitu Bodi dan Caniago serta 2 Suku lagi dari suku Koto-Piliang yang berasal dari aliran Datuak Katumangguangan.

 

2 Buah Paurik

Saparuik terdiri dari sekurang-kurangnya seorang anak, seorang ibu, seorang nenek dan seorang gaek, dalam arti kata terdiri dari sekurangnya empat generasi, barulah bisa dikatakan separuik.

Namun apabila lebih dari empat generasi bisa disebut sebagai Tuo Kampuang.

 

3. Tuo Kampuang

Apabila kumpulan saparuik sudah bertambah banyak jumlah kekeluarganya seperti yang saya sebutkan pada point sebelumnya yaitu lebih dari 4 generasi, maka untuk tiap kelompok yang saparuik diangkat salah seorang mamak yang tertua atau yang dituakan sebagai “Tuo Kampuang” dengan tugas antara lain mengawasi “Hak nan bapunyo, ganggam nan bauntuak,” mengurus harta pusaka di bawah pengawasan Penghulu Suku. Semacam pangungkek atau pembantu Penghulu Suku tanpa gelar Datuak atau diadakannya “batagak pangulu”.

nagari minang

4. Tungganai

Semua saudara lelaki ibu disebut dengan Mamak Rumah, sedangkan saudara lelaki tertua dari ibu disebut dengan “Tungganai” . Dalam urusan seperindukan maupun dalam urusan mamak-kemenakan, maka Tungganai itulah yang harus turun tangan.

 

Adapun dari segi fisik, Nagari harus memenuhi beberapa syarat berikut:

 

1 Basosok Bajurami

Nagari harus mempunyai batas-batas kenagarian yang ditentukan dengan musyawarah antara para penghulu di nagari baru dengan panghulu di nagari-nagari bertetangga. Berarti nagari harus mempunyai daerah asli yang dicintai penduduknya yang akan selalu dijaga dan dilindungi selama hayatnya.

Oleh karena tanah pusaka tinggi tidak boleh diperjualbelikan, maka dengan sendirinya orang Minangkabau akan selalu mempunyai tanah tumpah darah secara abadi. Semiskin-miskinnya orang Minang, dia akan selalu memiliki tanah kaum, sekaya-kayanya orang Minang tidak akan mungkin menjadi tuan tanah (landlord) di ranah Minang.

 

2 Balabuah Batapian

Nagari harus mempunyai prasarana jalan lingkungna dan jalan penghubung antar nagari serta tepian tempat mandi. Syarat ini menunjukkan betapa tingginya pemikiran nenek moyang oran Minang yang memahami begitu pentingnya prasarana jalan untuk kelancaran ekonomi dan komunikasi masyarakat. Seharusnya hal ini dapat dicontoh oleh Pemerintah Indonesia yang dapat membangun jalan di setiap desa di Indonesia.

 

Batapian tampek mandi melambangkan kebersihan sesuai dengan tujuan adat dan agama Islam yang mendambakan kesucian lahir dan batin. Hingga sekarang, tepian tempat mandi ini selalu dipagar agar rapat dengan pagar tanaman hidup yang bertujuan membina rasa malu dan sopan santun.

 

3. Barumah Batanggo

Artinya mempunyai rumah tangga atau tempat tinggal. Rumah di Minangkabau diperuntukkan bagi kaum ibu dan anak-anaknya. Batanggo artinya mempunyai tangga yang berguna untuk naik ke atas rumah. Seperti diketahui bahwa Rumah Gadang merupakan rumah panggung yang memerlukan tangga untuk naik dan turunnya. Barangsiapa yang naik dan turun rumah tidak melalui tangga, di Minangkabau biasanya “halal” untuk dikeroyok. Ya bayangin aja orang naik dan keluar lewat jendela, malah disangka maling… hehehe

 

4. Bakorong Bakampuang

Korong kampung adlah daerah yang mempunyai penduduk yang punya tali keturunan menurut adat yang menjadikan penduduknya “seras”, “seadat” dan “selembaga”

 

5. Basawah Baladang

Artinya daerah persawahan dan perladangna. Swah dan ladang in selain simbol dari kemakmuran untuk kelangsungan hidup manusia, ia juga berarti budi luhur masyarakat yang tidak lepas dari raso pareso, malu jopan, ereng jo gendeng. Hal in idisebabkan karena sawah dan ladang termasuk tanah pusaka yang telah ada silsilah dan batannya yang tidak boleh dilanggar, apalagi untuk keserakahan semata.

nagari di minangkabau1

6. Babalai Bamusajik

Mempunyai balai adat untu bermusyawarah dan masjid untuk beribadah. Balairung (balai adat) adalah lembaga keadilan dan perdamaian yang berfungsi menghubungkan pihak yang sedah berselisih agar dapat dirundingkan dengna penuh kejujuran, kebenaran dan keadilan.

Masjid adalah lambang persatuan umat islam, tempat beribadan dan pusat segala kegiatan pendidikan moral manusia.

 

7. Bapandam Bapakuburan

artinya mempunyai tempat pemakaman akhir. Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, begitu juga manusia. Agar memudahkan penguburan dan ziarah, maka naga diharuskan mempunyai tempat kuburannya.

comment

comment

About urangawak

Check Also

bingkisan marapulai

Bingkisan Panjampuik Marapulai

Ketika akan menikah, pihak anak daro (pengantion perempuan) akan menjemput marapulai (pengantin laki-laki). Bingkisan adat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sitemap