Pada awal tahun 1990 an, seorang peneliti dari Universitas Indonesia menyatakan bahwa salah satu sifat orang minang adalah “galie” yang diberinya arti negatif sama dengan “licik”.

Banyak orang Minang waktu itu, termasuk tokoh-tokoh besar, sangat berang karena merasa tersinggung. Serentak mereka menantang sang peneliti untuk berdiskusi secara terbuka mengenai hasil penelitian tersebut.

Pernyataan dasar dalam hal ini, apakah memang benar orang Minang itu “galie” dan apakah “galie” itu identik dengan “licik” atau identik dengan “licin”?

Di Minangkabau kita mengenal “urang nan ampek jinih” sebagai tokoh dan pemuka masyarakat yaitu Ninik Mamak, Alim Ulama,Cadiak Pandai dan Bundo Kanduang. Cadiak pandai di samping sebagai “urang nan ampek jinih” juga dianggap sebagai sifat orang Minang yaitu cerdik dan pandai.

Apakah sifat cadiak sama pengertiannya dengan pandai? Kalau tidak sama, dimana leatak perbedaannya?

Penajaman pemahaman tentang sifat-sifat yang selalu dihubungkan dengan watak ke-Minangkabauan ini agaknya sangat penting kita dalami agar kita dapat memahami jati diri sendiri. Dengan penajaman pemahaman itu, kita akan mengetahui apakah benar kita orang Minang ini sebagai galie atau licik di satu pihak serta di pihak lain bersifat cadiak dan pandai. Apakah masing-masing sifat itu berjalan seiringan dalam diri kita atau saling bertentangan satu sama lain?

Pertanyaan selanjutnya adalah, dalam era globalisasi ini, sifat dan watak Minang yang mana harus kita kembangkan? Bila berbicara mengenai pengembangan sumber daya manusia, sifat-sifat yang mana akan kita berikan prioritas dalam pendidikan generasi muda Minang khususnya. Apakah kita perlu “malu” bila dikatakan sifat umum orang MInang adalah “galie, licik, cadiak, dan pandai”?

 

GALIE

Dulu di kampung, anak laki-laki suka bermain “ukak”,  “penda”. “main simbang” biasanya dilakukan oleh anak padusi (perempuan). Main “ukak” adalah permainan dengan menggunakan damar (kemiri). Permainannya terdiri dari dua orang, masing-masing mempertaruhkan 3 butir buah kemirinya. Cara permainan dilakukan dengan melemparkan keenam buah kemiri ke arah sebuah lubang yang biasanya dibuat di pangkal sebuah pohon yang agak besar.

Kemiri yang masuk ke lubang dianggap miliknya di pemain, empat sisanya masih di luar. Pihak lawan menentukan salah satu dari keempat kemiri yang diluar untuk dilempar dengan kemiri yang dimiliki oleh pemain. Bila kemiri yang ditunjuk kena lemparan secara tepat, maka pihak pemain dianggap memenangkan seluruh kemiri. Tapi kalau yang dilempar masuk ke dalam lubang setelah dilempar, maka pemain dianggap gagal dan tidak berhak atas kemiri yang di lubang maupun yang di luar.

Kini giliran main ditukar dengan pemain yang kedua dengan cara yang sama. Pelemparan kemiri dilakukan dengan jarak sekitar 3 meter dari lubang pohon.

Kalau seorang anak sudah menang cukup banyak, misalnya sudah mengantongi 20 biji kemiri. Maka dia mulai berpikir, apakah akan terus main atau berhenti. Kalau main tersu bisa kalah tapi kalau berhenti dia bisa mengantongi untung sebanyak 20 biji kemiri. Lantas dia mengambil keputusan untuk berhenti bermain.

Keputusan ini menyebabkan pihak lawan yang sedang kalah marah dan menggerutu bahkan menuduh lawannya dengan kata-kata “galie-ang!”, disini kata “galie” berarti seseorang yang bertindak untuk mempertahankan keuntungan yang sudah diperolehnya sekaligus tidak memberi kesempatan pada pihak lawan untuk menebus kekalahannya. Apakah sifat “galie” seperti ini baik atau tidak, perlu kita kembangkan sebagai orang Minang? Pembaca bisa mengutarakan pikirannya pada kolom komentar. Artikel akan dilanjutkan untuk membahas sifat licik.

 

comment

comment